PERTANYAAN UMUM SEPUTAR NAMA YAHWEH DAN ALLAH

Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini, merupakan pertanyaan umum yang sering ditanyakan sehubungan dengan Nama Yahweh. Sebelum membaca naskah ini, taruhlah hati Anda di sudut netral terlebih dahulu agar Anda menerima berkat. Nama YAHWEH dinyatakan dan diberitakan merupakan penggenapan Nubuatan Kitab Daniel 12:4 dimana pada akhir jaman “pengetahuan akan bertambah” dan termasuk di dalamnya tentang pemulihan Nama-Nya sendiri digenapi. Sebab nama Yesus harus tetap tinggal disorga sampai pemulihan segala sesuatu terjadi (Kisah 3: 21) dan salah satu pemulihan tersebut adalah mengenai Nama Bapa yang sudah tidak dikenal oleh umatNya sendiri di Indonesia.

 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah:

 

  1. Mengapa msalah NAMA saja dipermasalahkan ? Bukankah dari dahulu tidak pernah ada masalah? Apakah arti sebuah nama?

Jawabannya: Masalah NAMA, merupakan masalah yang sangat penting, karena di dalam sebuah “Nama” terdapat:  REPUTASI, KEHADIRAN, KARAKTER dan  MENGANDUNG ARTI yang sangat dalam bagi si pemilik nama tersebut. Karena itulah, semua yang ada di dunia ini mempunyai nama, baik benda-benda yang ada di bumi maupun yang ada di angkasa, tumbuh-tumbuhan, tempat dan sebagainya, semua punya nama, apalagi manusia. Tidak ada satu manusiapun di dunia ini yang tidak punya nama, bahkan binatang kesayanganpun banyak yang diberi nama yang menyangkut keberadaan dan pribadi si pemilik nama itu. Apalagi Tuhan sang pencipta langit dan bumi, tentu saja punya nama.

 

Bahkan nama dapat membedakan jenis kelamin si pemilik nama secara umum, untuk dapat segera mengidentifikasinya. Misalkan jika di Jawa Tengah, ada seseorang yang bernama Yanto, Bambang, Karno dan Eko, pasti orang akan mengetahui bahwa si penyandang nama-nama tersebut, secara umum pasti berjenis kelamin laki-laki. Tetapi jika orang bernama, Santi, Yanti, Hartini, dapat dipastikan bahwa si pemilik nama tersebut berjenis kelamin perempuan.

 

Bagi orang yang tidak meneliti firman dengan baik, memang akan beranggapan bahwa selama ini tidak ada masalah, atau Tuhan sendiri dianggap tidak pernah mempermasalahkan masalah NamaNya, mau dipanggil apa saja tidak masalah, apalagi masalah kekeliruan soal Nama ini sudah berlangsung sangat lama dan berabad-abad di Indonesia dan seolah-olah tidak ada masalah, padahal sangat bermasalah.

 

Terhadap umat Islam misalkan, bagaimanapun umat Islam berpendapat bahwa sesuai dengan Qur’an QS112 Al Ikhlas 1-3 yang mengatakan : Qul huwallaahu ahad (Katakanlah ALLAH itu ESA) – Allah hussomad (ALLAH adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu) – Lam yalid wa lam yuulad (Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan) – Wa lam yaqul lahu kufuan ahad (dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia). Jadi menyebut ALLAH dalam kekristenan tentu menyinggung perasaan agama Islam, karena dalam kekristenan ada istilah :

– Allah Bapa,

– Allah Anak,

– Allah Roh dan

– Bunda Allah, yang sebenarnya dalam Kitab Suci Asli berbahasa Ibrani, tidak ada istilah itu semua. Kalau ada umat Islam yang mengatakan bahwa umat Kristen mau menyebut Allah juga tidak masalah, mungkin orang Islam tersebut tidak mengerti Kitab Sucinya sendiri. Karena dalam Qur’an, ALLAH itu NAMA Pribadi atau Personal name, bukan generik name.

 

Melalui kesempatan ini, saya akan mengingatkan bahwa Tuhan yang disembah oleh Abraham, Ishak dan Yakub, yaitu Tuhan sang pencipta langit dan bumi ini, sejak dahulu selalu mempermasalahkan Namanya, karena itu Dia berkata dalam kitab Keluaran 20:7 sebagai berikut : “Jangan menyebut nama Yahweh Tuhanmu dengan sembarangan, sebab Yahweh akan memandang bersalah orang yang menyebut namaNya dengan sembarangan.” Coba perhatikan, memanggil namaNya sembarangan saja dilarang, Apalagi MENGGANTI NamaNya dengan nama sesembahan lain yang bukan nama diri-Nya.

 

 

  1. Bukankah Tuhannya Israel itu tidak punya nama? Karena saat ditanya Musa, Dia menjawab, AKU ADALAH AKU ?

Jawabannya: Tuhannya Israel bukannya tidak punya nama. Kalimat “AKU adalah AKU”, dapat dijumpai di kitab Keluaran 3:14 yang diterjemahkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia sebagai berikut: Firman Allah kepada Musa: AKU ADALAH AKU. Lagi firmanNya: Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus Aku kepadamu.

 

Kalau kita berpikir dengan pola pikir kita sebagai manusia, seseorang dapat mempunyai nama, tentu ada yang memberi nama … yaitu Bapak dan atau Ibunya, demikian juga Bapak dan Ibunya tersebut, juga mempunyai nama karena diberi nama oleh Kakek dan Nenek mereka. Nah jika diurutkan terus ke atas, maka siapakah yang memberi nama Tuhan? Tentu saja tidak ada! Berdasarkan pemikiran inilah yang mengaspirasikan bahwa Tuhan itu tidak punya nama! Apalagi ayat referensi yang dipakai adalah kitab Keluaran 3: 14.

 

Jika membaca ayat tersebut, jangan berhenti di ayat 14, coba baca ayat yang ke 15 nya, bahwa Tuhan pencipta langit dan bumi itu punya nama dan namaNya adalah YAHWEH. Jadi kalau kembali kepada pertanyaan yang kedua bahwa Tuhannya Israel itu tidak punya nama ….. itu sangat keliru, sebab Tuhannya umat Israel, Tuhan yang disembah oleh Abraham, Ishak dan Yakub yang adalah Tuhan pencipta langit dan bumi dan tentu saja adalah Tuhan kita semua itu, mempunyai nama dan yang memberi nama Tuhan … tentu saja adalah dirinya sendiri, karena Dia sendirilah yang memperkenalkan nama-Nya kepada Musa dan Dia itu kekal adanya.

 

  1. Saya merasa Kristen penyembah nama Yahweh itu bukan gerakan yang berasal dari Tuhan, sebab kalau dari Tuhan tentu tidak membuat jemaat pecah, resah dan ketakutan karena intimidasi.

Jawabannya : Mengubah paradigma dan kebiasaan yang sudah sejak dahulu diajarkan dalam gereja dan dianggap sebagai kebenaran yang baku terkadang menimbulkan kontroversi, dan itu memang sudah menjadi suatu resiko. Memang hal-hal yang baru kadang-kadang bisa menyebabkan kontroversi.  Tuhan Yesus sendiri ketika mengajarkan kebenaran, membuat ahli Taurat dan Orang Farisi merasa resah dan merasa terintimidasi  tentu saja bagi kedudukan dan pengajaran yang hanya menguntungkan kelompok / diri mereka sendiri dan bukan untuk kemuliaan Bapa di sorga, sehingga mereka menolak keras ajaran Tuhan Yesus.

 

Bagi mereka, lebih baik Tuhan Yesus disalibkan saja dari pada menurut anggapan mereka, Yesus menghujat sang Pencipta dan membuat resah keadaan. Hal itu karena mereka tidak mengenal, baik Anak maupun Bapa seperti sabda Tuhan Yesus dalam Kitab Yohanes 16: 3. Namun apakah pengajaran Yesus itu bukan suatu kebenaran dan bukan berasal dari Bapa di sorga, hanya karena ada yang terintimidasi dan membuat orang tidak sejahtera bahkan terpecah? Tentu saja tidak khan!

 

Jadi perasaan terintimidasi dan tidak sejahtera jemaat sampai menimbulkan perpecahan sebenarnya itu bukan karena nama Yahweh, tetapi disebabkan karena belum mengerti tentang nama Bapa saja atau cara penyempaiannya saja yang kurang bajksana sehingga bisa menimbulkan dampak seperti tersebut di atas.

 

  1. Bagi saya yang penting adalah Yesus Kristus, bukankah kitab Filipi 2:9-11 mengatakan bahwa Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan nama di atas seala nama?

Jawabannya: Lebih besar mana “yang meninggikan” dengan “yang ditinggikan”, dan lebih besar mana “yang mengaruniakan” dengan yang “diberi karunia?” Tentu saja jawabannya adalah lebih besar yang meninggikan dan yang memberi karunia. Nah siapakah yang meninggikan Yesus dan yang memberi karunia kepada Yesus? Yang meninggikan Yesus dan yang memberikan karunia kepada Yesua adalah Elohim yang dalam hal ini adalah YAHWEH. Jika atas dasar Filipi 2: 9-11 orang beranggapan bahwa nama Yahweh sudah tidak diperlukan lagi, karena semuanya sudah di tangan Yesus, maka anggapan itu sangatlah keliru.

 

Kita tidak bisa memisahkan pribadi Yesus dengan Yahweh karena Yahweh dan Yesus itu adalah satu atau ekhad (Yokhanan 10: 30), sehingga membenci Yahweh berarti juga membenci Yesus sesuai dengan Kitab Yoh. 15: 23 karena yang dimaksud dengan Bapaku adalah Yahweh. Karena Yesus adalah Yahweh yang menjadi manusia, sehingga siapa yang percaya kepadanya tidak binasa melainkan beroleh hidup kekal sampai selama-lamanya (Yoh. 3: 16). Ingat bahwa orang-orang yang ada  di dalam kerajaan sorga, sesuai dengan Kitab Wahyu 14: 1 yaitu di dahinya tertulis nama Yahweh dan nama Yesus.

 

  1. Bukankah dari dahulu saya pakai Allah juga diberkati oleh Tuhan?

Jawabannya: Inilah kesalahan fatal yang dilakukan oleh orang Kristen yang berusaha untuk tetap mempertahankan Allah, dengan menjadikan berkat materi selalu dijadikan ukuran.

Kalau bicara soal berkat,

– orang yang tidak ke gereja,

– tidak menyembah Allah,

– tidak menyembah Yesus,

– tidak menyembah Yahweh,

– tidak menyembah Budha,

– tidak menyembah Brahma,

– bahkan tidak menyembah siapapun,

– namun mau bekerja keras dan

– mau menerapkan sistem ekonomi yang baik dalam kehidupannya,

– akan bisa kaya raya, bahkan lebih kaya dari orang yang menyembah kepada siapapun.

 

Jadi berkat meteri tidak bisa dijadikan sebagai ukurannya, tetapi yang harus dijadikan ukuran kebenaran adalah Firman Tuhan itu sendiri. Katakanlah Anda merasa diberkati sebelum Anda mengenal dan mengerti siapa Yahweh itu, saya ingin memberitahu bahwa yang memberkati Anda itu adalah Yesus, karena ketika Anda berdoa selalu mengakhirinya dengan kalimat “Di dalam Nama Yesus.”

 

  1. Dahulu saya pakai Allah tetap ada mujizat juga tuh? Baik dalam mendoakan orang-orang sakit maupun problem, kenapa saya harus menghilangkan Allah dan memanggil Yahweh yang dari dahulu tidak pernah saya kenal? Apakah ini bukan saksi Yehuwa?  

Jawabannya: Sama seperti yang sudah saya sampaikan tadi, bahwa yang memberikan mujizat itu bukan Allah atau Nama yang lain. Karena orang Kristen kalau berdoa selalu diakhiri dengan kalimat: “Di dalam nama Yesus.” Apakah ada orang Kristen kalau berdoa mendoakan orang sakit atau problem tidak menggunakan Nama Yesus? Kecuali umat Islam, tentu berdoanya dalam nama Allah karena memang itu Nama Tuhan mereka.

 

Orang Kristen yang menyebut atau menyembah nama Yahweh bukan berarti seorang pengikut Saksi Yehuwa atau Saksi Yehova. Memulihkan nama Yahweh dianggap sebagai saksi Yehuwa adalah MENGHAKIMI, sebab Saksi Yehuwa masih menyebut Allah juga dan Kitab Sucinya pun berbeda.  Sedangkan gerakan Pemulihan Nama Yahweh ini berasal dari Tuhan sendiri. Ini adalah penggenapan kitab Daniel 12:4 dimana pengetahuan akan bertambah banyak, sehingga nama Yahweh yang sudah dikenal orang, khususnya di Indonesia, dipulihkan kembali. Dengan dipulihkannya Nama Yahweh, maka akan menggenapi nubuatan Kitab Zefanya  3:9 yang berbunyi: “Tetapi sesudah itu Aku akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa yakni bibir yang bersih supaya sekaliannya mereka memanggil nama Yahweh beribadah kepadanya dengan bahu membahu.”

 

  1. Bagi saya yang penting hati, jika saya menyebut Allah berarti yang saya maksud adalah Yahweh, toh Tuhan juga Maha Tahu? Kristen menyembah Allah karena kebetulan namanya sama, pada hal pribadinya berbeda, Allah di Islam tidak sama dengan Allah di Kristen.

Jawabannya : Itu khan pendapat Anda yang tidak sesuai Firman Tuhan. Kalau anda sudah mengetahui bahwa nama Tuhan yang disembah oleh Bapa Abraham, Ishak dan Yakub adalah Yahweh, kenapa tidak disebut? Kecuali Anda memang benar-benar tidak mengetahuinya!

 

Bukankah Yahweh ingin NamaNya dipanggil dan disebut? Coba baca di dalam Kitab Keluaran 3:15 dan 1 Tawarikh 16:8, Mazmur 103: 1 dan lainlain. – Bukankah Firman Tuhan juga mengatakan Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan (Roma 10: 10). Coba Anda renungkan dengan baik ayat tersebut.

 

Saya akan memberikan illustrasi sebagai berikut :

Jika Anda mempunyai pasangan yang sah, lalu pada saat anda sedang melakukan hubungan sebagai suami isteri, lalu pasangan anda tersebut mengucapkan kata-kata sanjungan tetapi menyebut nama orang lain, apakah anda tidak cemburu? Saya yakin Anda pasti cemburu, dan jika Anda cemburu lalu pasangan anda mengatakan bahwa yang ada di dalam hati saya sebetulnya adalah kamu. Saya yakin Anda pasti tidak akan bisa menerima alas an tersebut.

Saya ingatkan bahwa Yahweh adalah Tuhan yang cemburu. Di dalam Keluaran 34:14 dikatakan sebagai berikut : “Kamu jangan sujud menyembah kepada Tuhan lain karena Yahweh yang namanya cemburuan adalah Tuhan yang cemburu.”

 

Menjawab pertanyaan kedua, apakah benar bahwa Allah di Kristen itu berbeda dengan Allah di Islam? Jawabannya adalah bahwa Allah dalam Kristen dan Islam itu adalah sama. Bukan karena kebetulan namanya yang sama, tetapi karena tulisan Arabnya sama dan pribadinya juga sama. Di dalam Alkitab asli, berbahasa Ibrani tidak pernah sekali pun nama Allah itu ditulis atau disebut. Mengapa orang Kristen menyembahnya? Sembahlah nama Bapa kita sendiri yaitu Yahweh dan jangan menyembah sesembahan yang lain.

 

  1. Saya baru akan mengubah konssep saya, jika dari Lembaga Alkitab Indonesia yang menjadi tolok ukur kebenaran sudah mengubah dan menerbitkan kebenaran ini. Jawabannya: Yang menjadi tolok ukur kebenaran, seharusnya Kitab Suci yang berbahasa Ibrani, sebab kitab suci terjemahan, terjemahan apapun termasuk terjemahan dari Lembaga Alkitab Indonesia bisa saja salah. Buktinya Lembaga Alkitab Indonesia telah merevisi kitabnya berkali kali.

 

Salah satu contoh kesalahan terjemahan dari Lembaga Alkitab Indonesia adalah dalam Kitab Yehezkiel 34: 16 dimana berbunyi: Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya.

Sedangkan dalam bahasa Inggris versi apapun diterjemahkan sebagai berikut: I will seek that which was lost, and bring again that which was driven away, and will bind up that which was broken, and will strengthen that which was sick; but I will destroy the fat and the strong; I will feed them with judgment.

 

Jadi seharusnya kita lebih taat kepada firman Tuhan dari pada taat kepada Lembaga Alkitab Indonesia, karena penerjemah Lembaga Alkitab Indonesia juga manusia biasa yang bisa salah. Ada banyak kesalahan kesalahan terjemahan yang lain jika mau diungkapkan.

 

  1. Apakah kami yang setia ke gereja dan masih menyebut Allah itu salah dan masuk neraka atau sesat?

Jawabannya: Sudah diterangkan di atas, bahwa Allah itu sesembahan dan Tuhannya umat Islam, kita harus menghormati keyakinan mereka dengan tidak mencampur-adukan di dalam kekristenan. Masalah masuk sorga atau neraka itu bukan hak kita untuk menentukan tetapi mutlak wewenang Tuhan Yahweh. Tidak ada seorangpun yang berhak menentukan. Kita tidak boleh menghakimi orang yang berbeda keyakinan dengan kita.  Kami juga tidak pernah mengatakan bahwa orang Kristen yang measih menyebut Allah itu sesat. Itu hanya karena belum tahu saja. Dahulu pun kami juga seperti itu.

Yang sekarang menjadi pertanyaa adalah: Lebih takut kepada kepada siapakah Anda? TUHAN ATAU MANUSIA? Justru yang sering dianggap sesat, adalah kami orang-orang yang menyebut atau menyembah Nama Yahweh.

 

  1. Untuk masalah nama Yahweh, apakah kelompok penyembah nama Yahweh sudah mengaklarifikasi atau minta ijin PGI atau Badan Gereja yang lain?

Jawabannya: Masalah mengklarifikasi, sebenarnya sudah banyak surat-surat yang disampaikan kepada Lembaga Alkitab Indonesia oleh para penyembah Nama Yahweh.  Baik surat yang ditujukan untuk memperbaiki masalah tata bahasa Indonesia, maupun secara theologis, namun rupanya Lembaga Alkitab tidak menjawab secara proporsional.  Malah berupaya untuk mencegah agar Nama Yahweh tidak dikenal, dan berusaha untuk menghilangkannya, dengan berbagai alasan theologis yang tidak bersumber kepada Firman Tuhan itu sendiri.

 

Tetapi di sisi lain, Lembaga Alkitab Indonesia pernah mencetak Kitab Suci Komunitas Kristiani, Edisi Pastoral Katolik terbitan tahun 2002, dimana justru tersebar ratusan Nama Yahweh disana. Apakah ini bukan merupakan pembodohan terhadap umat Tuhan, kalau memang Nama Yahweh dianggap tidak layak masuk dalam Kitab Suci terbitan Lembaga Alkitab Indonesia! Kalau Nama itu memang Nama Tuhan, kenapa Lembaga Alkitab Indonesia tidak mau mencetak untuk komunitas penyembah Nama Yahweh, padahal sebagai institusi yang memegang “Bible Society” seharusnya memenuhi semua kebutuhan umat Tuhan!

 

Untuk menyebut atau memanggl nama Yahweh, menurut saya tidak perlu minta ijin kepada LAI maupun PGI atau lembaga lainnya sebab Tuhan sendiri memang menghendaki namaNya disebut.

 

  1. Bukankah orang Kristen Arab juga memanggil nama Tuhan dengan Allah, di mana salahnya?

Jawabannya: Dalam Kitab Suci berbahasa Arab Alkitabul Moquddasu Wa huwa asfaarul Ahdainil qodiimi wal jadiid (Perjanjian Lama dan Baru) yang Mutarjamah minallughootil Ashliiyah (diterjemahkan dari bahasa asli) oleh Nidaur Rojaa Stuttgart Almaaniyaa (Yayasan Nidaur Roja Sturrgart Jerman) Nama Yahweh ditulis YAHWAH, karena dalam bahasa Arab tidak ada vocal. Jadi orang Kristen Arab mengenal Nama Yahweh. Dan jika dengan kasus ini, tiba-tiba orang Kristen di Indonesia berkiblat kepada orang Kristen Arab ini aneh, seharusnya yang dijadikan tolok ukur kebenaran itu bukan orang Kristen Arab, melainkan Firman Tuhan itu sendiri berkata bagaimana, itu yang seharusnya diikuti. Kekristenan itu bersumber dari Ibrani atau Israel dan bukan Arab, seperti yang tertulis dalam firman Tuhan: “……….,sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi” (Yoh. 4:22).

 

Kembali kepada Orang Kristen Arab yang dijadikan acuan, saya ingin memberitahu bahwa Orang Kristen Arabpun mengalami kebingungan dalam menerjemahkan Kitab Sucinya. Memang Nama Yahweh tetap dikenal oleh mereka, beda dengan orang Kristen di Indonesia yang malah menentang mati-matian Nama Yahweh tetapi membela mati-matian Nama “Allah”. Namun Orang Kristen Arab terkadang menerjemahkan juga Nama Yahweh, menjadi Antar robbu ilah / arrobbu, terkadang diganti dengan Allah, terkadang tidak diterjemahkan. Kebingungan ini disebabkan karena sebelum ada Kristen di Arab, Nama atau Kata “Allah” sudah dikenal sebelumnya sebagai agama suku, seperti di Indonesia.

 

Di Arab, Nama atau kata Allah sudah dikenal jauh sebelum agama Islam ada, yaitu sebagai Nama Dewa yang mengairi bumi, yaitu satu diantara 360 dewa lainnya seperti Allata, Aluza, Almanat, Alhubal dsb. Sedangkan Di Indonesia nama atau kata Allah sudah dikenal karena agama Islam sudah masuk terlebih dahulu ke Indonesia, dan oleh umat Islam. nama atau kata Allah dikenal sebagai Tuhan sang pencipta. Saya melihat bahwa Kitab Suci Alkitabul Muqoddassu yang beredar ditanah Arab dan dipakai oleh orang Kristen Arab yaitu Wa huwa Asfaarul Ahdainil Qodiimi wal jadiid / perjanjian lama dan baru Mutarjamah minallughoofil Ashliiyah / yang diterjemahkan dari bahasa Asli oleh Nidaaur Rojaa Stutgart Almaaniyaa / Yayasan Nidaur Roja Stuutgart Jerman tersebut diatas, Nama Yahweh tidak diterjemahkan. Namun dalam Kitab Suci berbahasa Arab “Arabic Bible” dari International Bible Society, yang dapat di akses di internet di : http://www.ibs.org/bibles/arabic/index.php justru menerjemahkan Nama Yahweh menjadi Arrobbu. Ini membuktikan bahwa penerjemah Kitab Suci berbahasa Arab juga mengalami kebingungan. Bagaimana mungkin kondisi kebingungan seperti ini dipakai sebagai acuannya? Oleh karena itu janganlah berkiblat kepada kesalahan orang, sebab bahasa Asli Kitab Suci kita bukan bahasa Arab melainkan bahasa Ibrani.

 

  1. Orang Yahudi saja tidak menyebut Yahweh, mengapa kita berani menyebut-Nya?

Jawabannya: Orang Yahudi atau orang Israel tidak menyebut atau memangil Yahweh bukan berarti mereka tidak mengenal atau menolak Yahweh, tetapi karena mereka sangat menguduskan nama tersebut. Pada saat itu mereka berada di Babel dan mereka menyembah kepada Baal dan dewa-dewa, lalu ketika mereka dipulihkan, mereka merasa tidak layak untuk menyebut Nama yang Kudus itu, yaitu Nama yang sudah memulihkan mereka. Karena itulah setiap kali ada huruf YHWH (Yahweh), mereka membacanya: Adonai atau Ha Shem (Nama itu / Sang Nama). Hal itu karena mereka sangat menghargai dan menguduskan  Nama Yahweh, jadi jelas di pikiran mereka tentu mengenal dan tahu siapa Yahweh, namun penghargaan itu tidak sesuai dengan isi hati Yahweh sendiri yang menghendaki agar Nama-Nya disebut atau dipanggil, diagungkan serta dimuliakan. Berbeda dengan orang Kristen di Indonesia yang tidak memanggil nama Yahweh, bukan karena mereka menguduskan atau menghormati nama Yahweh, tetapi karena belum atau tidak mengenal nama Yahweh.

 

Lalu mengapa kita berani memanggil nama Yahweh? Karena kita sekarang hidup di tidak hidup di bawah Torat lagi tetapi hidup di dalam anugerah Tuhan, sehingga kita tidak menerima roh perbudakan sehingga menjadi takut, melainkan menerima Roh yang menjadikan kita anak, yang olehnya kita berseru, Abba, Bapa (Roma 8:15). Paulus menegaskan dalam Galatia 4:6 : “Dan karena kamu adalah anak, maka Elohim telah mengirim Roh Putra-Nya ke dalam hatimu, untuk berseru, “Abba, Bapa”. Oleh karena anugerah Tuhan Yesus Kristus yang telah menjadikan kita anak-anakNya, maka sekarang kita berani untuk memanggil nama Bapa kita, yaitu Yahweh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *