TANYA-JAWAB SEPUTAR GRACE

  1. Apakah orang Kristen dapat melakukan dosa yang tidak dapat diampuni?

Jawaban: Tidak! Karena dosa yang tidak dapat diampuni itu adalah dosa karena tidak percaya Yesus.

Yohanes 16:8-9 : Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku;

  1. Apakah pernyataan “Sekali selamat tetap selamat itu Alkitabiah”?

Jawaban: Sekali selamat tetap selamat di dalam Kristus adalah Alkitabiah. Hal ini sesuai dengan,

  • Yohanes 10:28-29: “dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.

Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.”

  • I Yoh. 5:9-13: “Kita menerima kesaksian manusia, tetapi kesaksian TUHAN lebih kuat. Sebab demikianlah kesaksian yang diberikan TUHAN tentang Anak-Nya. Barangsiapa percaya kepada ANAK TUHAN, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; barangsiapa tidak percaya kepada TUHAN, ia membuat Dia menjadi pendusta, karena ia tidak percaya akan kesaksian yang diberikan TUHAN tentang Anak-Nya.
  • Dan inilah kesaksian itu: TUHAN telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya.

Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.

Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama ANAK TUHAN, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.

  1. Apakah orang Kristen perlu mengaku dosa terus-menerus untuk menerima pengampunan dosanya sesuai dengan I Yohanes 1:9?

Jawabannya: Kita diampuni bukan oleh doa pengakuan dosa atau pertobatan kita, tetapi hanya oleh karya Yesus Kristus disalib dan oleh darah-Nya menurut kekayaan kasih karunia-Nya. Pengampunan yang kita terima bukan berdasarkan seberapa banyak dosa yang kita akui.

  • Efesus 1:7 : Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya.
  • Ayat I Yoh. 1:9 tersebut ditujukan untuk orang yang belum percaya Yesus dan bukan untuk orang yang sudah percaya Yesus (I Yoh. 1:3).

 

  1. Apakah orang Kristen harus mengerjakan keselamatan sesuai dengan Filipi 2:12?

Jawaban: Tuhanlah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya (Fil. 2:13).

Dalam versi Bahasa Inggris Fil 2:12 dipakai kata “work out” bukan “work for” yang memiliki pengertian bahwa kata tersebut bukan berarti untuk memperoleh keselamatan, tetapi mengekspresikan atau memanifestasikan keselamatan yang sudah diterima, dan bukan berusaha untuk memperoleh keselamatan. Tuhan yang sudah menyelamatkan kita, Ia sendiri yang akan terus bekerja dalam kita, bukan diri kita. Bagian kita adalah mengijinkan Dia bekerja dengan cara memberi diri kita dibersihkan oleh Roh Kudus melalui FirmanNya. Jadi, jangan puas dan berhenti sampai lahir baru, teruslah menerima perbuatan dan kekuatan Tuhan yang akan mengubah hidup kita.

 

  1. Dalam Doa Bapa Kami disebutkan bahwa kita harus mengampuni orang lebih dahulu baru kita menerima pengampunan. Bagaimana pandangan Injil Kasih Karunia menjelaskan pernyataan ini?

Jawaban: Perkataan Yesus ini diucapkan sebelum Dia disalibkan. Tetapi setelah Yesus disalib kita menerima pengampunan karena Tuhan telah mengampuni dosa kita  (Ef. 4:32) dan tidak mengingat dosa-dosa kita lagi (Ibrani 8:12). Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka.”

Sebelum Yesus disalib kita harus mengampuni supaya diampuni, tetapi setelah Yesus disalib kita mengampuni karena Yesus telah mengampuni kita.

 

  1. Dalam Yoh. 15:2 ditulis, “Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.” Apakah kata ”dipotong” dalam ayat ini berarti bahwa orang percaya bisa kehilangan keselamatan?

Jawaban:  Teks asli kata “dipotong” adalah “airo” (Bahasa Yunani) yang berarti: “diangkat” (to lift up, to take up). Tanaman anggur adalah tanaman yang merambat dan supaya berbuah, pohon anggur harus cukup mendapat sinar matahari. Apabila ada ranting yang tidak berbuah karena tergeletak di tanah (tidak merambat pada penopangnya), maka ranting itu akan diangkat dari tanah dan diletakkan kembali pada penopangnya sehingga dia mendapat sinar matahari dan dapat berbuah.

Orang Kristen yang “tergeletak” dan hanya memandang ke tanah (self & sin concious) akan diangkat oleh Yesus – Penopang dan Surya Kebenaran –  yang selalu  menyinari orang ini sehingga ia akan memandang hanya Yesus (Son concious) dan akibatnya ia berbuah.

 

  1. Mengapa Tuhan Yesus ketika menjawab pertanyaan tentang keselamatan, solusinya adalah melakukan hukum Taurat (Lukas 18:18-24)?

Jawaban: Karena orang tersebut membanggakan diri bahwa ia telah melakukan seluruh hukum Taurat, padahal ia telah gagal dan tidak mampu melakukan hukum Taurat tersebut. Ia telah menjadikan hartanya sebagai illah dalam hidupnya. Di dalam hukum Taurat, ketika seseorang gagal melakukan salah satu hukum, maka dia dianggap salah atau gagal seluruhnya.

Yak 2:10 Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.

 

  1. Apakah Injil Kasih Karunia mengajarkan ijin untuk berbuat dosa (License to sin) ?

Jawaban: Tidak, sebaliknya Kasih Karunia Tuhan mendidik kita untuk meninggalkan kefasikan, keinginan-keinginan duniawi dan membebaskan kita dari segala kejahatan (Titus 2:11-14).

Tit. 2:11-14 Karena kasih karunia TUHAN yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan TUHAN yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.

 

Hal ini juga dialami oleh Rasul Paulus dalam jamannya bahwa pengajarannya disalah mengerti banyak orang dan dianggap untuk ijin berbuat dosa, sehingga Rasul Paulus menekankan pada Roma 6:1-2 dan Roma 6:14-15 bahwa kita telah mati bagi dosa dan kita TIDAK akan dikuasai lagi oleh dosa.

Rom 6:1-2 Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?

Sekali-kali TIDAK! Bukankah kita telah mati bagi dosa,

Rom 6:14-15  Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.

Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali TIDAK!

  1. Beberapa orang berpendapat bahwa pengajaran Injil kasih Karunia ini membuat orang menjadi pasif, tidak lagi giat bekerja atau melayani, apakah hal ini benar ?

Jawaban: Hal ini tidak benar. Kasih karunia TUHAN ini membuat kita rajin berbuat baik (Titus 2:14), rajin untuk bekerja maupun untuk melayani.

Tit 2:14 …, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang RAJIN BERBUAT BAIK.

 

Bahkan Rasul Paulus bekerja lebih keras dari pada orang-orang sekitarnya, namun bukan kekuatannya sendiri tetapi kasih Karunia TUHAN yang berkerja dalam dirinya (1Kor 15:10).

1 Kor 15:10 Tetapi karena kasih karunia TUHAN, aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia TUHAN yang menyertai aku.

Surat-surat Rasul Paulus juga penuh dengan instruksi tentang bagaimana kita hidup sekarang setelah kita menjadi milik Kristus. Ia mendorong para pembacanya untuk bekerja didalam pekerjaannya seperti untuk Tuhan (Kol 3:23), para pegawai tunduk kepada majikan mereka,  para majikan diminta untuk bersikap baik kepada para pegawai mereka, para suami harus mengasihi isteri, anak-anak harus mentaati orang tua mereka dll.

Hidup oleh kasih karunia bukanlah panggilan kepada kepasifan, itu memberi kita kuasa untuk menjalani kehidupan yang saleh. Instruksi-instruksi dalam kekristenan bukanlah legalisme jika itu diajarkan sebagai hasil dari ciptaan baru. Seperti 2 mata pisau hanya bisa efektif jika digunakan bersama: posisi kita di dalam kristus dan bagaimana kita mengerjakan apa yang telah Ia kerjakan di dalam kita secara praktis.

 

  1. Benarkah pengajaran kasih karunia merendahkan atau menghilangkan Hukum Taurat?

Jawab: Sesungguhnya bangsa bukan Yahudi tidak pernah diberikan Hukum Taurat (Efe 2:11-16), tetapi Tuhan memberikan hati nurani yang menuntut diri kita seperti Hukum Taurat. (Rom 2:14-15).

Ajaran kasih karunia justru sangat menghormati Hukum Taurat dan menyadari bahwa standarnya jauh lebih tinggi dari yang mampu dilakukan manusia. Penghormatan sesungguhnya adalah pengakuan bahwa hukum Taurat tidak boleh dilakukan sebagian dan harus dilakukan secara sempurna dan dengan kesetiaan penuh. Namun tidak seorangpun di dunia ini yang pernah mencapai kesempurnaan tersebut. Sehingga satu-satunya cara untuk memenuhi tuntutannya tersebut adalah dengan menerima kasih karunia dalam Yesus Kristus.  Hukum Taurat diberikan untuk menunjukkan keterbatasan kekuatan dan kemampuan manusia dalam mencapai Tuhan (Rom 5:20).

Kematian Yesus telah membatalkan hukum Taurat (Ef 2:15) sehingga baik Yahudi maupun bukan Yahudi memiliki hanya satu jalan selamat yaitu iman pada Yesus Kristus. Ketaatan pada hukum Taurat tidak akan pernah membenarkan seseorang (Rom 3:20; Gal 3:11).

Dengan batalnya Hukum Taurat bukan berarti kita hidup tanpa hukum (antinomian), karena  kita tetap berada dalam hukum Tuhan (1 Kor 9:21, 1 Kor 7:19) yang dituliskannya dalam akal budi dan hati kita melalui Roh Kudus (Ibr  8:10).

 

  1. Bagaimana dengan Firman yang mengatakan bahwa ada orang-orang yang sudah melayani namun ditolak ketika Yesus datang (Mat 7:21-23)?

Jawab: Judul perikop ayat-ayat tersebut adalah “Hal Pengajaran Sesat’. Mereka yang ditolak Yesus adalah para pengajar sesat, yakni orang-orang yang meskipun tampaknya melayani namun tidak pernah dikenal Yesus (Mat 7:23). Artinya mereka bukan orang-orang yang lahir baru dalam Kristus, karena Yesus pasti mengenal domba-dombaNya.

Para pengajar sesat ini membuat ‘mujizat’ yang mirip dengan mujizat yang dilakukan Yesus, namun dengan kuasa-kuasa lain karena mereka tidak pernah menerima Kristus sebagai Tuhan dan juruselamatNya.

Kata “demi nama-Mu” juga bisa diartikan sebagai “demi nama Tuhan” sehingga belum tentu berarti “dalam nama Yesus”.  Sehingga, semua dukun-dukun, paranormal dan mereka yang melakukan ‘mujizat’ tetapi tidak pernah percaya kepada Yesus termasuk ke dalam kategori pengajar sesat tersebut. Bila mereka benar-benar orang percaya, maka Yesus tentu mengenal mereka dan tidak akan menghukum mereka.

 

  1. Bukankah jalan ke surga sempit?

Jawab: Benar, karena hanya ada satu jalan di antara sekian banyak ‘jalan-jalan’ lain yang ditawarkan dunia (ajaran Budha, Islam, Hindu, dll.).

Yoh 14:6 berkata “Akulah jalan, dan kebenaran, dan hidup. Tidak ada seorangpun yang sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.”

Jalan yang sempit bukan berarti jalan tersebut memerlukan upaya manusia yang begitu hebat sehingga sedikit sekali orang yang akan mampu melewatinya. Jalan sempit artinya hanya ada satu jalan (Yesus) dari sekian banyak yang di dunia.

Matius 7:12-14: “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”

Artinya, memang sedikit orang yang menemukan jalan satu-satunya itu, yakni jalan kepada Bapa melalui Yesus. Namun bukan berarti bahwa mereka yang telah menemukan Yesus, masih akan sulit selamat karena sesungguhnya mereka SUDAH selamat.

 

  1. Bagaimana dengan Firman ‘manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya bukan hanya karena iman’ (Yak 2:24)?

Jawab: Dalam kasih karunia, perbuatan yang benar adalah buah dari iman kepada Yesus Kristus. Iman adalah akar, sementara perbuatan adalah buah. Apabila kita tinggal di dalam Yesus (terus percaya padaNya dan FirmanNya) maka hanya permasalah waktu, kita pasti akan berbuah.

Dalam kasih karunia, kita percaya bahwa iman yang benar akan menuntun pada perbuatan baik. Sehingga ayat Yak 2:24 tersebut sangat konsisten dengan pengajaran kasih karunia. Tidak mungkin seorang yang beriman sungguh-sungguh pada Yesus kemudian tidak berubah untuk mulai perbuatan yang benar. Ia adalah ciptaan baru (2 Kor 5:17), Roh Kudus ada dalam hidupnya mengubah keinginan dan perbuatannya dari dalam ke luar (Fil 2:13).

 

14       Bagaimana dengan Firman bahwa ‘orang yang dikasihiNya akan dihajar sebagai anak’ (Ibr 12:6)?

Jawab: Pengajaran kasih karunia sangat mengakui bahwa anak-anak Tuhan perlu dididik sebagai anak (Ibrani 12:5-12). Dihajar yang dimaksud dalam surat tersebut bahasa aslinya adalah “paideuo” yang artinya mendidik, melatih anak (child training) dan koreksi. Pendidikan semacam ini tidak dirasakan menyenangkan, namun tujuannya adalah untuk kebaikan si anak sendiri dan menyelamatkan dia dari perilaku yang membahayakan dirinya sendiri. Perlu ditegaskan bahwa koreksi dan didikan Tuhan berbeda dengan penghukuman dan kutuk yang menyengsarakan, mematikan, dan membinasakan manusia.

Mungkin kita akan mengalami rasa frustrasi karena hal-hal yang kita kerjakan tidak berhasil, namun Tuhan tidak membuat sampar dan sakit penyakit yang mematikan karena kita berbuat kesalahan dalam kehidupan pribadi, keluarga, pekerjaan atau pelayanan kita.

 

  1. Apabila kasih karunia dalam Yesus memerdekakan manusia dari hukuman dan kutuk, bagaimana jika manusia menyalahgunakannya?

Jawab: Yesus tidak pernah ragu untuk mati di kayu salib karena berpikir bahwa mungkin akan ada orang-orang yang tidak menghargai dan menerima pengorbananNya tersebut.

Memang sudah dan akan ada manusia yang tidak menghargai karyaNya di kayu salib, namun tidak berarti bahwa kita perlu menambah-nambahi ‘the good news’ agar tidak terlalu mudah, dengan tujuan agar manusia yang mendengarnya tidak menyalahgunakannya.

Tugas kita adalah memberitakan kabar baik kasih karunia Yesus Kristus. Biarkanlah lalang dan gandum tumbuh bersama sampai hari penuaian. Apabila kita menghakimi lalang dan gandum maka akan ada yang tercabut. Akan ada orang-orang yang bisa diselamatkan namun menjauh dari Kristus karena beban berat yang kita pasang di bahu mereka.

Padahal Yesus berkata: Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (Mat 11:30). Dalam versi English Amplified ”For My yoke is wholesome (useful, good–not harsh, hard, sharp, or pressing, but comfortable, gracious, and pleasant), and My burden is light and easy to be borne.”

Hidup dalam hukum Kristus (hukum kasih) seharusnya menyenangkan dan tidak menekan, karena bagian kita adalah menerima kasih karunia dan kebaikanNya. Dengan menerima kemurahanNya secara tidak henti-hentinya, kita akan dimampukan membagikannya kepada sekitar kita (2 Kor 3:6). Seharusnya, kita yang telah dimerdekakan Kristus benar-benar merasakan kemerdekaan tersebut (Yoh 8:36).

Setiap orang percaya semestinya tidak lagi hidup seperti di bawah beban hukum Taurat yang keras, berat, dan mematikan (2 Kor 3:6). Setan (dalam bahasa aslinya Hasatan artinya pendakwa) ingin menggunakan surat hutang yang sebenarnya sudah lunas dibayar (Kol 2:14) untuk menuduh kita bahwa kita masih memiliki kekurangan-kekurangan pembayaran (kurang bayar harga misalnya dalam ibadah pribadi, doa, pelayanan, dan persembahan), sehingga akhirnya kita lumpuh, kelelahan, dan akhirnya binasa karena menyerah tidak sanggup lagi mengikuti Kristus. Ia sedang menjauhkan kita dari kebaikan, kemurahan dan kasih karunia Tuhan, yang sesungguhnya sangat kita perlukan untuk dapat berkenan kepada Dia. Bagian kita adalah menerima kebenaran yang merupakan pemberian cuma-cuma dari Tuhan (Ef 2:8-9).

 

  1. Saya sendiri mengerti dan tidak akan menyalahgunakan kasih karunia. Tetapi bagaimana dengan orang lain atau saudaraku yang sangat sulit dinasihati?

Jawabannya sederhana dan berupa pertanyaan balik: Apakah Anda sungguh-sungguh merasa lebih baik dari orang lain? Mungkin ini adalah sebuah gejala kesombongan rohani. Orang yang tidak merendahkan diri terhadap orang lain adalah orang yang congkak dan ditentang oleh Tuhan (1 Pet 5:5).

Saat Yesus mati di kayu salib, Ia tahu bahwa Anda akan gagal dan berdosa kembali. Ia juga tahu bahwa mungkin akan ada orang yang akan menyalahgunakan kasih karunia bahkan menolak pengorbananNya. Namun Ia tetap melakukannya karena Ia mengasihi kita semua. Mengapa Anda merasa bahwa Anda layak diampuni namun orang lain tidak layak diampuni sekali untuk selamanya?

Percayalah bahwa Roh Kudus tidak pernah salah. Saat Ia masuk dan tinggal dalam hati orang yang lahir kembali dalam Yesus, Roh itu akan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang baik dalam kehidupan orang itu. Tuhan sendiri akan menanamkan keinginan yang baru dan memampukan orang itu melakukan perbuatan baik (Fil 2:13), bila orang tersebut memang sungguh-sungguh membuka hatinya dan percaya kepada Yesus. Saat ia sudah menerima Yesus, perubahan perilaku hanyalah masalah waktu. Iman adalah akar, sementara kasih dan perbuatan adalah buah.

Peraturan, ancaman, dan tekanan sosial dalam gereja hanya bisa membuat seseorang kelihatan taat dan saleh dalam perbuatannya yang tampak dari luar, namun tidak mampu membuka dan menyentuh hati orang. Hanya Roh Kudus yang mampu melakukannya.

 

  1. Apakah pengertian tentang “menyangkal diri & memikul salib”?(Mat 16:24)

Jawab: Ketika Yesus mengucapkan perkataan ini, pendengarnya adalah orang Yahudi yang hidup di Hukum Taurat. Yang dimaksud Yesus “menyangkal diri” adalah setiap hari kita harus mengakui bahwa kita tidak dapat menyelamatkan diri dengan usaha-usaha, upaya, perbuatan-perbuatan baik kita (Rm 3:27-28, Gal 2:16, 2 Tim 1:9, Fil 3:9). Setiap hari kita harus menyangkal untuk mempercayai diri kita dan lebih memilih untuk mempercayai Yesus, bukan self-concious (sadar diri) tapi Christ-concious (sadar Kristus).

Sedang “memikul salib” memiliki arti: salib adalah tempat dimana Yesus mati di atasnya. Salib berbicara tentang kematian. Jadi memikul salib maknanya adalah setiap saat kita (harus) menganggap diri kita sudah mati atau meniadakan diri sendiri, seperti Gal 2:19-20. Dan hal menjadi MATI itu bukanlah hasil dari diri kita, melainkan semata-mata adalah pekerjaan Yesus (yang kita aminkan untuk kita).

 

  1. Bagaimana dengan perumpamaan 5 gadis bijaksana dan 5 gadis bodoh? Apakah saya bisa tidak diselamatkan?

Jawab: saat Yesus menyampaikan perumpamaan ini, Ia sedang mengajar di bait suci dan tiba-tiba imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi datang menyela Yesus dan bertanya “dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?” (Mat 21:23b). Jadi perumpamaan itu ditujukan kepada imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi, bukan kepada kita.

Di perumpamaan ini Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai Mempelai Laki-laki, tetapi di dalamnya tidak disebut seorang mempelai/pengantin perempuan. Yang ada hanya 10 gadis (ten virgins). Pertanyaan: di dalam Alkitab pernahkah orang percaya dipanggil sebagai “gadis/anak dara”? Tidak pernah! Lalu siapakah 10 gadis ini?

Mereka adalah orang-orang Israel (Yer 18:13, 31:4). Menurut adat pernikahan Yahudi memang dilibatkan teman-teman perempuan yang masih perawan yang menunggu mempelai laki-laki di rumah mempelai wanita (Maz 45:13-14). Karena yang menunggu Kristus itu bukan hanya gereja-Nya tetapi juga orang Yahudi yang sampai sekarang masih menunggu kedatangan Mesias. Di dalam perumpamaan ini Yesus menubuatkan bahwa orang Yahudi nanti ada juga yang diselamatkan tapi jumlahnya hanya 50%, cocok dengan nubuatan Yesus lagi dalam Mat 24:40.

 

  1. Bagaimana tentang penghakiman terakhir dimana dibedakan antara kambing dan domba berdasarkan perbuatannya?

Jawab: Banyak orang Kristen fokus pada perbuatan, padahal perbuatan tidak menentukan identitas seseorang, tetapi sebaliknya IDENTITAS MENENTUKAN PERBUATAN. Seorang Pangeran Harry tidak akan mengais-ais sampah karena dia tahu dia seorang pangeran, bukan pengemis. Orang yang tahu identitasnya adalah orang benar maka dia akan melakukan perbuatan-perbuatan benar. Kambing dan domba berbeda BUKAN karena perbuatannya tetapi karena dari DNA nya sudah berbeda, jenisnya, jati dirinya berbeda. Dari Mat 25:31-46 ini kita tahu bahwa domba akan melakukan perbuatan-perbuatan baik. Right believing will produce right living.

 

  1. Bagaimana dengan Ananias dan Safira? Bukankah setelah salib tidak ada lagi penghukuman di dalam Kristus?

Jawab: Ananias dan Safira bukan orang percaya, seperti juga pada masa sekarang tidak semua orang yang ada di dalam gereja adalah orang yang percaya Yesus. Dalam bhs Inggris Ananias dalam Kis 5:1 disebutkan sebagai “a certain man”, sedangkan murid-murid Tuhan Yesus tidak pernah disebutkan sebagai a certain man, melainkan “a certain disciple” (Kis 9:10).

 

  1. Bagaimana dengan Firman yang berkata “jika kita sengaja berbuat dosa maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa?” (Ibr 10:26-27)

Jawab: Ibr 10:26-27 “Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka

Penulis kitab Ibrani ini menujukan tulisannya kepada orang Ibrani yg sedang mengalami peralihan dari peraturan Hukum Taurat kepada kasih karunia, dari Old Covenant kepada New Covenant.

Dalam penjelasannya kepada orang Ibrani tsb, penulis membukakan suatu kemungkinan apabila ada seseorang yang sengaja berbuat dosa sekalipun telah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran yaitu berita benar tentang semua yang Kristus sudah lakukan bagi kita, maka tidak ada lagi kurban yang bisa menghapus dosa tsb, seperti tertulis dalam Ibr 10:4 “Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa”.

Bagaimana kita mengidentifikasikan dosa yang dimaksud dalam ayat 26? Jawabannya ada pada ayat 27, yaitu dosa yang menyebabkan seseorang mengalami kematian yang mengerikan dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka. Dengan kata lain dosa ini mengandung suatu penghukuman kekal. Dosa yang dimaksud ini adalah Yoh 3:18  “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Bapa”.

Jadi, satu-satunya dosa yang dapat menghasilkan penghukuman kekal yaitu ia TIDAK PERCAYA dalam nama Anak Tunggal Bapa, yaitu Tuhan Yesus. Saat seseorang tidak percaya kepada Anak Tunggal Bapa yang menghapus dosa dunia lalu masih mengharapkan pengampunan dosa melalui darah lembu jantan atau darah domba jantan (seperti dalam Hukum Taurat), maka orang itu sama saja sudah menginjak-injak Anak Bapa, menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya dan menghina Roh Kasih Karunia (Ibr 10:29)

  1. Bagaimana dengan firman yang berkata “penghakiman dimulai dari rumah Tuhan sendiri?” (1 Pet 4:17)

Jawab: Petrus menulis surat ini di saat penganiayaan besar sedang terjadi atas orang Kristen. Di awal kelahirannya, gereja hanya menghadapi ancaman dari orang religius macam Saulus. Tetapi ketegangan makin meningkat, sekarang negarapun ikut memburu mereka.

Saat Petrus mengatakan “saatnya penghakiman bagi gereja” yang dia maksudkan adalah penghukuman Nero atas orang-orang Kristen saat itu. Lihat bagaimana Petrus menjelaskan penghukuman ini di ayat2 sebelumnya (ay 12-16) dengan menggunakan kata “bersukacitalah, bergembiralah, berbahagialah”.

Karena Nero – bukan Tuhan – orang Kristen disiksa dan dibunuh karena iman mereka pada Kristus. Dalam kondisi penuh aniaya ini, Petrus menghadirkan perspektif yang berbeda. Dia membandingkan apa yang terjadi kepada orang benar (penganiayaan di hidup ini) dengan apa yang akan terjadi kepada orang tak percaya (penghukuman kekal).

 

  1. Kita diberitahu bahwa kita dikuduskan sekali untuk selamanya (Ibr 10:10), tapi di Ibr 12:14 dikatakan “kejarlah kekudusan”. Bukankah kontradiksi?

Jawab: Ibr 12:14 “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan”. Sebenarnya teks asli ayat ini adalah seperti ini: “Eirenen diokete meta panton, kai ton hagiasmon, hou choris oudeis opsetai ton kurion”. Jika diterjemahkan secara baku: “Peace purse with all, and the holiness, which without no one will see the Lord” atau secara baku dlm bahasa Indonesia: “Kejar damai dengan semua, dan kekudusan yang tanpa itu tidak seorangpun akan melihat Tuhan”.

Berdasarkan definisi ini, jelas bahwa sebenarnya ayat Ibr 12:14 ini adalah berisi nasehat cara berinteraksi orang percaya terhadap semua orang. Dan dijelaskan lebih lanjut, cara berinteraksi yang dimaksudkan itu akan memberi suatu “dampak” kepada orang lain. Cara berinteraksinya ialah “hiduplah damai” dan “tunjukkan kekudusan” terhadap semua orang, dimana kita – orang percaya – SUDAH memiliki kedua hal itu (damai dan kekudusan). “Dampak” yang akan muncul ialah, orang lain itu “akan melihat Tuhan” melalui kita. Tanpa hal seperti ini, tidak ada orang yang akan “melihat Tuhan melalui orang percaya”.

Jadi, isi ayat itu tidak ada kaitannya dengan “hiduplah kudus supaya selamat” ataupun supaya kita “bisa melihat Tuhan atau tidak”. Sebab kita sudah selamat, sudah disucikan, sudah dikuduskan, sudah dibenarkan saat kita “lahir di dalam Kristus”. Kekudusan itu sudah ada dan telah kita terima di dalam Kristus Yesus. Tidak kita upayakan dan tidak kita “kejar-kejar” lagi.

 

  1. Bagaimana dengan iman yang kandas? Apakah artinya keselamatan bisa hilang?

Jawab: Paulus mengatakan ini terjadi kepada setidaknya 2 orang. 1 Tim 1:18-20 “Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu, supaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni. Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka, di antaranya Himeneus dan Aleksander, yang telah kuserahkan kepada Iblis, supaya jera mereka menghujat”.

Jadi ada kemungkinan ini terjadi juga pada orang Kristen masa kini. Tapi bagaimana iman bisa kandas dan apa konsekuensinya? Sebagian besar orang berpikir “Iman yang kandas berarti kita kehilangan keselamatan, berarti menuju ke neraka”. Padahal tidak begitu sama sekali!

Apa yang menyebabkan iman menjadi kandas? Paulus mengatakan jika “tidak berpegang pada iman (bersandar sepenuhnya kepada Tuhan dengan kepercayaan dan keyakinan penuh)” dan “menolak atau membuang hati nurani yang murni”. Ini bukan tentang mengabaikan nurani kita tapi tentang bahaya mengabaikan hati nurani yang MURNI. Jika hati nurani kita menghukum kita (= KOTOR), kita akan kesulitan mempercayai apa yang Tuhan katakan mengenai kita (1 Yoh 3:21-22). Penghakiman adalah pembunuh iman. Penghakiman membuat kita ketakutan di hadapan Tuhan, membuat kita sulit menerima kekayaan kasih karuniaNya.

Apa itu iman yang kandas? Paulus lama menghabiskan waktu di daerah pantai dan ia suka menggunakan metafora kelautan dalam tulisannya. Jika kita tidak merasa aman dan pasti akan kasih Bapa – yang pasti kita rasakan jika hati nurani menuduh kita – iman kita akan kandas dan karam. Seperti kapal yang gagal mencapai tujuannya, kita akan gagal menerima apa yang telah Tuhan sediakan untuk kita. Itu tidak berarti kita akan kehilangan keselamatan kita, itu artinya:

  • Kita tidak akan dewasa dalam iman = tidak akan “matang” (Luk 8:14)
  • Kita kehilangan kemerdekaan yang kita miliki dalam Kristus (Gal 5:1)
  • Kita tidak stabil = tidak teguh (2 Pet 3:17)
  • Kita akan ketakutan akan penghukuman yang tidak terjadi (1 Yoh 4:18)

Perjanjian baru memang memuat hal-hal buruk yang bisa terjadi jika kita tidak mempercayai Yesus dalam kehidupan kita sehari-hari. Tapi satu hal yang paling ditakutkan – Kristus menghapus kita – adalah satu-satunya hal yang TIDAK AKAN TERJADI. Karena kita manunggal dg Tuhan, tenanglah! Karena Ia yang memegang kita, Ia tidak akan melepaskan kita. Karena Roh-Nya yang kudus ada di dalam kita, Ia tidak akan meninggalkan kita selama-lamanya (Yoh 14:16). Iman yang kandas artinya bergeser dari fondasi yang kuat Yesus Kristus. Artinya mengganti iman kepada Tuhan dengan iman kepada diri sendiri, pada usaha, pada kemampuan, pada kehebatan kita.

Siapa Himeneus & Aleksander? Mereka adalah bagian dari kelompok guru/pengajar palsu yang dikatakan Paulus dalam 1 Tim 1:4 & 7.  Setelah Paulus meninggalkan Efesus, pengajar palsu muncul dari antara mereka sendiri dan mulai mengajarkan Taurat. Persoalan utama bukan pada Hukum Tauratnya tapi “Mereka itu hendak menjadi pengajar hukum Taurat tanpa mengerti perkataan mereka sendiri dan pokok-pokok yang secara mutlak mereka kemukakan. Kita tahu bahwa hukum Taurat itu baik kalau tepat digunakan” (1 Tim 1:7-8). Hasilnya adalah mereka maupun pendengarnya teralih dari “keselamatan yang diberikan Tuhan oleh iman” (ay 4)

Paulus menyebut Himeneus dan Aleksander adalah penghujat. Menghujat adalah mengatakan sesuatu kebohongan tentang seseorang (memfitnah) yaitu yang mengatakan:

  • “Darah Yesus tidak berguna bagiku”
  • “Yesus butuh bantuanku”
  • “Roh Kudus mendakwaku atas dosa-dosaku”
  • “Tuhan tidak mampu menyelesaikan apa yang Dia mulai”
  • “Kalau aku berdosa aku keluar dari kasih karunia Tuhan”

Pesan seperti ini hanya menghasilkan kontroversi dan kebingungan dan menjauhkan orang dari mempercayai pekerjaan yang Tuhan Yesus sudah selesaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *